Tanah, Rumah dan Kebun Disita Bank, Ibu Penjarakan Anak Perempuannya

0
36
KAPOLRES, DEDDY NATA

KOTA MANNA – Peminjaman sertifikat tanah oleh orang tua kepada anaknya untuk dijadikan agunan pengajuan pinjaman uang ke bank mungkin hal biasa. Namun hal itu dapat berujung petaka jika angsuran pinjaman macet yang berakibat agunan akan disita pihak bank.

Seperti yang dilakukan Lena (56), warga Puding Kecamatan Pino, melaporkan anaknya sendiri berinisial Si (44), warga Desa Gedung Agung Kecamatan Pino ke polisi karena sertifikat tanah miliknya yang dipinjamkan ke anaknya tersebut digadaikan ke bank dan angsuran macet.

Akibat laporan ibu kandungnya itu, Si sudah ditetapkan tersangka oleh penyidik Sat Reskrim Polres BS dan akan menjalani sidang di pengadilan. Kapolres BS, AKBP Deddy Nata, SIK melalui Kasat Reskrim, AKP Rahmat Hadi Fitrianto, SH SIK disampaikan Kanit Tipiter, Ipda Priyanto, SH mengatakan, awal konflik antara pelapor dengan tersangka tersebut terjadi pada tahun 2011.

Ketika itu tersangka menelpon pelapor mengatakan ingin meminjam sertifikat tanah milik orang tuanya itu. Karena sayang kepada anak, pelapor pun langsung mengindahkan permintaan tersangka tersebut.

“Waktu itu pelapor yang mengantarkan dua buah sertifikat tanah ke rumah tersangka di Desa Bandung Ayu Kecamatan Pino Raya,” kata Kanit Tipiter.

Setelah itu, pada tahun 2015 datang pihak Bank Muamalat Harkat wilayah Suka Raja Seluma ke rumah pelapor dengan tujuan menagih tunggakan pinjaman. Hal itu membuat pelapor kaget karena merasa tidak pernah minjam uang di bank. Keesokan harinya, pelapor langsung datang ke rumah anaknya tersebut untuk menanyakan bahwa sertifikat yang dipinjamkan tersebut digadaikan ke bank.

“Waktu pelapor tanya mengenai tunggakan bank tersebut, tersangka mengakui bahwa sertifikat tersebut digadaikan ke bank. Waktu itu ada suami tersangka yang mengakui bahwa pinjaman bank itu tanggung jawab mereka,” beber Kanit Tipiter.

Karena pinjaman bank yang sudah lama menunggak, pihak bank berencana menyita tanah, kebun dan rumah yang ditempati pelapor. Bahkan pelapor pun sudah dipanggil ke pengadilan terkait tunggakan pinjaman bank anaknya itu. “Waktu itu pelapor meminta tersangka melunasi tunggakan pinjaman bank tersebut. Namun tersangka tidak peduli, sehingga hal ini dilaporkan (ke polisi),” jelas Kanit Tipiter.

Akibat perbuatannya tersebut, tersangka dijerat pasal 372 KUHP tentang penggelapan dengan ancaman pidana penjara empat tahun. “Meski sudah ditetapkan tersangka, kami tidak melakukan penahanan. Kami berharap tersangka dapat berprilaku kooperatif dalam perkara ini,” tutup Kanit Tipiter. (yoh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here