Tak Pakai Masker, Puluhan Warga Disanksi

0
46
DISANKSI: Warga yang kedapatan tidak memakai masker disanksi oleh petugas tim Yustisi pencegahan wabah virus corona, Jumat (20/11).

KOTA MANNA – Puluhan warga BS yang kedapatan melanggar protokol kesehatan (prokes) pencegahan covid-19, mendapat sanksi dari petugas Satgas penanganan wabah covid-19 BS.

Warga yang tidak memakai masker ini disanksi sosial seperti membersihkan lingkungan sosial, push up, menyanyikan lagu kebangsaan hingga diminta membaca surat pendek Alquran. “Hari ini (Jumat, 20/11) puluhan warga yang kedapatan tidak mengenakan masker terpaksa kami sanksi. Sebab, sosialisasi terus dilakukan,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD BS, Daved Fahlevi, ST.

Tim satgas yang terdiri dari TNI, POLRI, Satpol PP dan BPBD BS ini melakukan razia yustisi dalam penegakan Perbup Nomor 32 pada hari Jum’at (20/11) pagi di empat titik lokasi yakni Simpang Tiga Tugu PKK, depan Pasar Kutau, Simpang Raswi dan Jalan Ahmad Yani. Ada 50 warga yang kedapatan tidak memakai masker.

“Ada yang diberikan sanksi push up, menyapu area umum, menyanyikan lagu wajib nasional dan bacaan ayat pendek. Harapan kami, warga yang disanksi tersebut merasa malu untuk mengulangi perbuatannya,” sambungnya.

Senada dikatakan oleh Kasi Linmas Satpol-PP BS, Ujang Musdianto bahwa pemberian sanksi bagi para pelanggar Prokes pencegahan covid-19 diterapkan secara bertahap. Setelah warga memahami bahwa perbuatan melanggar tersebut adalah salah, maka secara khusus sanksi tidak ada negosiasi lagi.

“Kegiatan ini akan terus kami lakukan, bahkan rentang waktunya setiap hari dengan lokasi yang berbeda. Mudah-mudahan saja tidak ada kasus baru lagi warga terkonfirmasi positif covid-19,” pungkasnya.

Pantauan Rasel, tidak hanya banyak warga yang mulai enggan memakai masker. Alat perlindungan diri (APD) lainnya seperti memakai hand sanitizer serta tempat cuci tangan juga sudah tampak jarang terlihat. Seperti pantauan Rasel ke sejumlah rumah, perkantoran dan toko yang ada di sepanjang jalan di Kota Manna yang banyak tidak lagi menyediakan tempat cuci tangan.

Tidak seperti saat awal-awal pandemi covid-19 dulu. Dimana saat itu, warga rela memburu merogoh kocek yang lebih demi mendapatkan masker dan handnitizer meski harganya mahal. Kini terkesan meremehkan dan acuh.

“Mungkin warga akan sadar dan patuh Prokes Pencegahan covid-19 setelah mereka terpapar. Tapi harusnya mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk itu, kami akan berusaha bersama tim Satgas Penanganan covid-19, mengajak warga agar tertib kembali,” ujar Ujang.

Sementara petugas Apotek Arifah Medica yang enggan namanya dimuat di koran menyebut, meski harga masker kini kembali normal tidak seperti di awal pandemi dulu. Namun, daya beli masyarakat jauh berkurang. Padahal masker adalah salah satu APD penting untuk pencegahan covid-19. Entah apakah warga sudah banyak yang punya, atau memang enggan lagi memakai masker.

“Ketersediaan masker sudah normal, harganya juga normal. Tapi yang beli kurang sekarang. Mungkin karena jumlah masker saat ini sudah banyak. Tapi lebih baik begitu, daripada ketersediaan masker sangat kurang dan langka,” tutupnya. (cw2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here