Sepekan Pasca Ledakan Bom Desa Padang Serunaian

0
82
KONDUSIF: Suasana di Desa Padang Serunaian Kecamatan SA, terlihat kondusif pasca kasus ledakan bom yang menghebohkan. FOTO: FAUZAN/Rasel

Desa Kondusif, Korban Tak Stabil

Lebih sepekan pasca ledakan bom di Desa Padang Serunaian Kecamatan Semidang Alas (SA), Sabtu (11/1). Polisi belum mampu mengungkap siapa pelaku perakit dan peletak bom berdaya ledak rendah di depan kediaman, Halidin (61), yang juga ayah dari Kades Padang Serunaian, Satria Utama (31). Lalu siapa sebenarnya korban dan mengapa menjadi sasaran pengeboman? Berikut laporan Rasel yang menyambangi Desa Padang Serunaian, kemarin (19/1)

Laporan: AHMAD FAUZAN

DESA Padang Serunaian Kecamatan SA, bukanlah desa yang begitu besar. Pun dengan rerata pekerjaan warganya, kebanyakanya adalah petani. Terutama petani perkebunan karet dan kelapa sawit.

Namun, Sabtu, 11 Januari, ledakan bom menghebohkan se antero Bumi Raflesia. Provinsi Bengkulu yang selama ini terkenal aman dari aksi terorisme, sejenak hangat dengan kisah ledakan bom yang hingga hari ini, belum juga terungkap siapa pelakunya.

Bahkan, motif peletakkan bom ini pun masih simpang siur. Terdengar kabar aksi ini dilakukan lantaran dendam politik desa. Tepatnya dendam atas terpilihnya Satria Utama, anak korban, sebagai Kades Padang Serunaian.

Namun kepastian kasus ini masih diselidiki oleh Polda Bengkulu. Iya, kasus ini diambil alih langsung oleh Penyidik Polda Bengkulu. Polres Seluma hanya diminta membantu menjaga kondusifitas dan kebutuhan penyelidikan lainnya.

Yang pasti, Kapolda Bengkulu Irjen. Supratman, memastikan kasus ini tanpa keterlibatan organisasi terorisme, layaknya banyak kasus bom yang terjadi. Sayangnya, hingga kemarin, belum ada keterangan resmi apa saja yang terkandung dalam bom yang meledak.

Kapolda menyebut bom tersebut hanyalah bom ikan yang disalahgunakan. Namun, Desa Padang Serunaian tidak memiliki daerah perairan yang luas, juga jauh dari laut.

Keberadaan bom ikan pun dibantah Kades, Satria Utama. Dirinya menyebut tidak mungkin ada warga yang menyimpan bom ikan di wilayahnya. Pasalnya rerata warga bekerja sebagai petani.

“Untuk apa warga menyimpan bom ikan. Bom pasti dirakit khusus, kalau dibuat seperti bom ikan, saya kurang paham,” ungkap Kades.

Namun yang pasti, bom tersimpan di dalam tas. Saat korban, Halidin, menyentuh bom tersebut dengan kakinya. Duarrr…tas tersebut tetiba meledak.

Akibatnya, korban mengalami luka di bagian kaki kiri sehingga harus mendapatkan perawatan medis. Sempat dibawa ke Puskesmas setempat, namun kemudian dirujuk ke RS Bhayangkara Bengkulu.

Bayangkan jika korban menyentuh tas tersebut menggunakan tangannya. Serpihan bom yang diinformasikan berupa potongan besi dan kaca, jelas akan menyebabkan korban cidera parah.

Kembali ke pertanyaan siapa sebenarnya korban sehingga menjadi sasaran bom. Rasel menemukan fakta bahwa korban ternyata seorang yang cerdas. Dirinya menjadi salah seorang dari pemuda Bengkulu yang diutus untuk melanjutkan pendidikan tinggai di Institut Pertanian Bogor (IPB), pada 1981.

Bahkan, Kades mengisahkan jika ayahnya pernah satu sekolah dengan Kapolda di SMAN 1 Bengkulu, yang saat itu berada di kawasan Kelurahan Anggut Kota Bengkulu. Bahkan, Halidin terkenal sebagai siswa berprestasi di sekolah tersebut. Hal itu pula yang menjadikan korban terpilih untuk kuliah di IPB, utusan dari Provinsi Bengkulu.

Sangking pintarnya, di kawasan SA dan Semidang Alas Maras (SAM), ketika ada warga yang mengisahkan kepintaran seseorang, kerap dibandingkan dengan sosok Halidin. “Kalu pintarlah Halidin (mungkin lebih pintar Halidin)” begitu perbandingan orang-orang di wilayah tersebut.

Namun, sayangnya Halidin tidak menamatkan kuliahnya. Belum diketahui kepastian mengapa Halidin sampai drop out (keluar) dari IPB. Padahal dari segi kecerdasan, banyak yang menyebut tidak mungkin Halidin tidak mampu menyelesaikan kuliahnya.

“Bapak waktu keluar dari IPB, sempat diminta untuk menjadi PNS (Pemprov) Bengkulu. Tapi bapak tidak mau,” ungkap Kades yang menceritakan kisah ayahnya.

Dia mengaku saat sedang menyusun skripsi, ayahnya mengalami sakit sehingga memilih pulang dan keluar dari IPB.

Sebelum lebih jauh, Kades mengaku ayahnya, kemarin, berada di kebun. Entah karena ingin menenangkan diri dengan berkebun, atau ada masalah lain. Sehingga korban diketahui biasanya pulang menjelang Salat Magrib, atau bahkan hingga malam, baru berada di rumah.

Tidak Stabil

Sisi lain, Kartilani (57), adik kandung korban, mengaku kakaknya memiliki emosi dan kejiwaan yang kurang stabil. Pasca kegagalannya menyelesaikan pendidikan di IPB, Halidin kerap emosi jika ada hal yang tidak sesuai pikirannya. Apalagi jika menyangkut masalah pribadi yang tidak bisa diselesaikannya.

“Kalau masalah pribadi, sangat sensitif. Apalagi kalau ada yang bertanya. Kemudian kakak saya tidak senang, pasti emosi. Sebelumnya, sempat ada yang dimarah dan dia (Halidin) emosi,” beber Kartilani kepada Rasel, kemarin.

Kartilani mengatakan warga Desa Padang Serunaian, sudah biasa dengan sikap kakaknya. Sehingga tidak terlalu mengambil hati jika melihat Halidin yang emosi. Namun bagi orang yang baru masuk ke Desa Padang Serunaian, bisa saja tersinggung jika melihatnya emosi.

Sebelumnya, Kartilani mengatakan ada orang dari luar yang menanyai masalah ledakan bom. Namun Halidin sama sekali tidak bersedia memberikan keterangan apapun. Bahkan, emosinya menjadi tidak stabil.

Mulai Kondusif

Pasca ledakan bom yang menimpa Halidin, kondisi Desa Padang Serunaian sudah mulai kondusif. Aktivitas masyarakat juga sudah normal.

Bahkan seperti biasa, menjelang sore, masyarakat terbiasa duduk di teras rumah masing-masing. Seakan sudah melupakan peristiwa yang sempat menghebohkan tersebut. Kemarin sore, Rasel yang berbincang dengan Kades dan adik kandung korban, Kartilani, bahkan dapat berbincang dengan santai tanpa ada kecurigaan dari warga.

Kades mengatakan kebiasaan korban suka pergi dari pagi dan menjelang magrib atau hingga malam, baru pulang ke rumah. Terlebih pasca kejadian ledakan, korban seperti menghindar saat ada warga baru yang bertamu.

“Tadi (kemarin) ada anggota Polisi, dan tamu dari provinsi mau bertemu. Dari pagi sampai siang menunggu, tapi bapak belum pulang, jadi tidak bertemu,” tegasnya kepada Rasel. Satria mengatakan kadang saat malam, ayahnya baru pulang.

Sebelum kejadian bom yang mengejutkan banyak pihak, Satria mengaku mereka tidak pernah memiliki musuh. “Kami hanya orang biasa, bukan siapa-siapa. Makanya adanya kejadian ini membuat kami sangat tertekan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Satria mengatakan saat kejadian, dirinya melihat langsung ayahnya membuka pintu rumah yang ditempati. Kemudian tiba-tiba terjadi ledakan yang cukup keras yang bahkan hampir seluruh warga bisa mendengarnya.

“Bukan hanya di warga di desa, bahkan warga yang sedang di kebun juga mendengar bunyi ledakan tersebut. Pagi itu, semua warga berkumpul di rumah kami melihat apa yang terjadi. Karena sebagian mengira ledakan tabung gas, atau ban mobil pecah,” beber Satria.
Sementara itu, jauh sebelum peristiwa ledakan bom atau sebelum menjadi Kades Padang Serunaian, Satria mengaku tidak begitu mengetahui perkembangan masyarakat. Apalagi, dirinya sebelumnya sekolah di Kota Pagaralam Sumsel.

Masih Diusut

Terpisah, Kapolres Seluma, AKBP. I Nyoman Mertha Dana SIK, mengatakan kasus ini masih dalam penanganan Polda Bengkulu. Hingga kemarin, belum ada seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka.

Meskipun ada 6 orang saksi yang dipanggil terkait kasus pengerusakan di Desa Padang Serunaian yang juga dimintai keterangan. Hal itu disebutkan Kapolres, belum dapat dikaitkan dengan kasus bom tersebut.

“Kasusnya masih didalami, semua saksi dalam kasus ini semuanya diperiksa di Polda Bengkulu. Korban Halidin sudah pulang ke rumahnya,” demikian Kapolres. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here