“Rumah-rumahan” & Tengkiang Masuk Daftar Penerima Bedah Rumah

0
375

KOTA MANNA – BANTUAN Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau lebih dikenal bedah rumah, yang digagas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yang setiap tahun digelontorkan, termasuk di BS, tujuannya untuk menjadikan rumah tidak layak huni (RTLH) menjadi rumah layak huni. Sehingga diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup para penerima bantuan.

Sesuai tujuannya, syarat rumah yang bisa menerima program ini pastilah RTLH. Lainnya, rumah sudah cukup lama dan benar-benar ditempati pemilik dan keluarganya.

Bagaimana dengan rumah-rumahan? Inilah yang diduga terjadi di Desa Gindo Suli Kecamatan Bunga Mas. Bahkan ada lumbung padi atau tengkiang yang juga masuk dalam daftar calon penerima. Disebut rumah-rumahan lantaran ukurannya yang tidak masuk akal lantaran kurang dari 3×3 meter persegi.

Sejumlah peralatan rumah tangga, sebagaimana rumah sebenarnya, juga tak terlihat sama sekali. Bagian dalam rumah-rumahan yang masuk dalam daftar calon penerima bedah rumah ini juga tanpa dinding. Tak ada kamar tidur, kamar mandi, bahkan dapur.

Dari pantauan Rasel, di dalam rumah hanya ada karpet, beberapa lembar baju, dan beberapa peralatan masak yang diduga belum sama sekali digunakan. Terlihat jelas, jika rumah tersebut baru saja dibangun meskipun material mulai dari atap dan dinding sudah cukup usang.

Salah satu rumah yang sengaja dibuat-buat agar mendapat bantuan bedah rumah

Salah seorang calon penerima BSPS, Feri Arlangga (31), awalnya enggan berkomentar saat didatangi wartawan Koran ini. Bahkan kepada Rasel, Feri mengklaim rumah yang hanya berukuran tak lebih dari sembilan meter persegi dan berdiri di lahan kosong tepat di belakang rumah orangtuanya itu, ia tempati bersama anak dan istrinya.

“Kalau siang, kami di rumah orangtua. Hanya malam saja rumah itu ditempati,” singkat Feri kepada Rasel, Selasa (24/9).

Begitupun Frengki, tetangga Feri, yang juga masuk dalam daftar calon penerima bedah rumah. Bedanya, rumah Frengki ini berukuran 2,5 meter x 3 meter. Juga tak ada kamar tidur. Begitupun kamar mandi. Namun di samping rumah, terdapat tempat masak menggunakan kayu bakar. Rumah Frengki ini berdiri di atas lahan milik mertuanya atau di antara rumah orangtua Fery dan mertua Frengki.

“Dulu ada bangunan, tapi dirobohkan. Oleh saya, dibangunlah rumah ini,” tutur Frengki.

Ditanya kapan rumah tersebut dibangun? Feri dan Frengki tak menampik jika rumah mereka baru saja dibangun. Keduanya mengaku mendirikan rumah dadakan itu setelah mendapat informasi dari Perangkat Desa bahwa akan ada bantuan bedah rumah.

“Jujur saja pak, memang rumah kami ini baru dibangun, belum sebulan. Tapi membangun ini bukan atas ide kami. Pas dapat informasi ada bedah rumah, ada Perangkat Desa yang menyarankan kami membangun rumah agar bisa diusulkan bantuan,” tegas keduanya.

Atas arahan itulah, keduanya pun membangun rumah dadakan dengan material apa adanya. “Namanya juga diminta, ya kami buat. Soal dapat tidaknya, kami tidak tahu. Yang pasti, rumah kami ini sudah didatangi tim survei. Kalau tidak salah sudah tiga kali. Namun, sampai saat ini, kami juga belum dapat kabar dapat tidaknya kami,” imbuh Feri dan Frengki.

Apakah hanya Feri dan Frengki? Ternyata tidak. Dari penelusuran Rasel, rumah milik Hendi juga nyaris sama. Bahkan, Hendi dengan jujur rumah yang berdiri di atas lahan milik mertuanya yang percis di belakang Kantor Desa Gindo Sulit itu baru saja dibangun, atau saat mendapat informasi jika desanya akan mendapatkan bantuan bedah rumah.

“Saya disuruh bangun apa adanya, ya saya bangun. Saya juga ditawarkan,” ungkap pria 29 tahun ini.

Terpisah, Kades Gindo Suli, Bobi Erawan AMd ketika dikonfirmasi Rasel, kemarin (25/9), mengakui adanya rumah baru yang masuk daftar penerima BSPS. Tapi, Bobi enggan menyebut rumah-rumahan melainkan rumah tumbuh.

“Itukan termasuk kategori rumah tumbuh. Saya sudah konfirmasi dengan pendamping, dan dinyatakan rumah tumbuh ini bisa masuk,” jelas Bobi.

Dalam hal ini, Bobi dengan tegas menyatakan tindakannya hanya untuk membantu warganya yang selama ini menempati rumah tidak layak huni. Tidak ada unsur politik ataupun lainnya. Saat program ini hendak bergulir, pihaknya mengusulkan 26 proposal dari kuota 23 rumah yang diterima desanya. Setelah melalui survei bertahap, lanjut Bobi, 12 rumah dinyatakan layak menerima.

“Saya dan perangkat saya sudah berjuang dalam hal ini. Dari 26 proposal, direkom hanya 21. Dari 21 itu, hanya 12 yang awalnya dinyatakan bisa menerima. Saya kejar terus dan menyakinkan kepada pendamping agar bisa ditambah. Nah pagi tadi (kemarin), saya telepon lagi pendamping. Alhamdullilah, bakal ditambah sembilan, Jadi total ada 21 yang akan menerima,” beber Bobi.

Sementara lima yang tidak layak, sebut Bobi, atas nama Feri Arlangga, Ferdi, Luthfi, Hamid, dan Dodoy. “Tapi saya tidak tahu mengapa tidak layak menerima. Yang pasti tadi pak. Kami sudah berusaha. Saya tekankan, tidak ada unsur apapun dalam hal ini. Semuanya kan atas keputusan tim survei,” imbuh Bobi.

Terkait soal ada rumah yang katanya lumbung padi, dibantah oleh Kades. Dia mengklaim jika bangunan tersebut memang sebelumnya adalah lumbung padi. “Dulu lumbung padi, tapi saat ini ditempati oleh Oktarian,” lanjut Bobi.

Terpisah, Kabid Perumahan Disperkim BS, Nofman Pasah SE, mengaku tidak terlibat langsung dalam hal verifikasi untuk calon penerima bedah rumah di wilayah Kecamatan Bunga Mas. Sebab, program BPSP di Bunga Mas ditangani langsung Satker Satuan Non Vertikal tertentu (SNVT) yang berada di bawah naungan Direktur Jenderal (Dirjen) Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR.

“Berapa yang dapat dari dana SNVT ini, saya tidak ingat. Saya hanya selaku tim teknis. Kalau survei dan apakah rumah itu layak dan tidak layak itu langsung tim provinsi,” terang Nofman Pasah. (and)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here