Jenazah Pasien Covid “Terlantar” di TPU, Dimakamkan Keluarga

0
2703
MAKAMKAN: Pihak keluarga dibantu warga dan polisi memakamkan jenazah PD secara bersama-sama karena tidak ada petugas Satgas Covid-19 yang datang ke TPU, Minggu (29/11)

KOTA MANNA – Jenazah PD (56), warga Jalan Veteran Kelurahan Padang Kapuk Kecamatan Kota Manna yang dinyatakan reaktif Covid-19 berdasarkan rapid test, sempat terlantar beberapa jam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gang Damai Padang Kapuk, Minggu (29/11). Pasalnya tidak ada petugas dari Satgas Penanganan Covid-19 BS yang datang ke lokasi untuk memakamkan jenazah.

Padahal dari pihak RSHD Manna, menyatakan pemakaman wajib dilakukan sesuai protokol Covid-19. “Kami sangat kecewa dengan hal ini,” ujar kerabat pasien meninggal dunia, Herman didampingi kerabat lainnya Suka.

Disampaikan Suka, alharhum meninggal dunia di RSHD Manna sekitar pukul 08.02 WIB, kemarin. Petugas medis kemudian melakukan rapid tes terhadap pasien, hasilnya dinyatakan reaktif. Ditambah lagi, riwayat sakit yang diderita mendiang, mirip dengan gejala covid-19. Akhirnya diputuskan pemakaman harus sesuai protokol covid-19.

“Awalnya kami minta kepada pihak rumah sakit agar pemakaman dilakukan secara umum saja, jangan sesuai protokol covid-19. Tapi pihak rumah sakit menyatakan harus sesuai protokol covid-19. Mereka (petugas kesehatan di rumah sakit) meminta pihak keluarga hanya menyiapkan liang saja,” beber Suka.

Saran dari pihak rumah sakitpun dituruti pihak keluarga. Warga pun menggali liang di TPU Gang Damai. Kemudian ambulance dari rumah sakit yang membawa jenazah mendiang di dalam peti, tiba di lokasi pemakaman.

Karena pemakaman memakai protokol covid-19, pihak keluarga dan warga tidak ada yang berani mendekat. Apalagi mereka tidak dilengkapi alat pelindung diri (APD) lengkap.

Tapi setelah hampir dua jam, tidak ada petugas dari Satgas Penanganan Covid-19 ataupun petugas rumah sakit yang datang ke lokasi, hanya sopir ambulance yang membawa jenazah. Pihak keluarga pun menghubungi pihak terkait, tapi jawaban yang diberi tidak memberi solusi. Warga pun mulai marah dan kecewa dengan pelayanan pemerintah.

Karena tidak tega dengan jenazah yang lama terlantar di dalam peti, pihak keluarga dibantu tetangga, warga dan personel Polsek Kota Manna melakukan inisiatif memakamkan jenazah yang sudah menunggu hampir dua jam. Untuk mencegah kemungkinan terpapar virus Covid-19, pihak keluarga dan warga meminta baju hasmat dari Puskesmas Kota Manna.
“Hanya baju saja yang diberi puskesmas. Sedangkan fasilitas lain seperti tali untuk menurunkan peti, masker dan alat pelindung wajah itu milik pribadi semua,” sambungnya.

Hal itu jelas saja membuat pihak keluarga sangat kecewa dengan sikap petugas Satgas Penanganan Covid-19 yang terkesan tidak bertanggung jawab. “Kalau tahu seperti ini (tidak ada petugas yang memakamkan), tidak usah ditetapkan pemakaman harus sesuai protokol covid-19, cukup dimakamkan secara umum saja. Apalagi itu baru hasil rapid test, bukan hasil swab,” sesal pihak keluarga dan warga sekitar.

Saling Lempar

Sementara itu, Sekretaris BPBD BS, Asilawati, SE, M.Si, mengaku tugas pemakaman jenzah sesuai protokol Covid-19, merupakan fungsi dari petugas puskesmas. Dirinya mengaku dalam Satgas Penanganan Covid-19, mereka yang berada di BPBD hanya bertugas menyosialisasikan agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan (Prokes) pencegahan Covid-19.

“Yang bertugas pemakaman itu, petugas Puskesmas. Kami hanya sosialisasi saja,” tutur Asilawati.

Terpisah, Camat Kota Manna, Septi Afrida, S.Sos, mengaku sedang berada di Bengkulu sehingga belum mengetahui informasi lebih jauh. “Maaf dek, kito lagi di Bengkulu,” singkat Camat karena sambungan telepon terputus saat dihubungi Rasel sekitar pukul 16.58 WIB, Minggu (29/11) sore.

Menyikapi hal itu, Direktur RSHD Manna Emrusmadi, Sp.B, menegaskan, penanganan pasien PD sudah dilakukan sesuai protokol penanganan pasien covid-19. Sejak masuk ke RSHD Manna pada Sabtu (28/11) sore, pasien saat itu langsung dilakukan rapid test dan menunjukkan hasil reaktif covid.

“Kalau protapnya sudah sesuai, masuk menjelang magrib itu langsung dirapid dan hasilnya reaktif, sehingga langsung kami bawa ke ruang isolasi. Kalau tes swabnya pagi tadi (29/11) diambil, tapi saya tidak tahu swabnya diambil ketika pasien masih ada atau setelah meninggal dunia,” ungkap Emrusmadi.

Sementara terkait pemakaman, sambung Emrusmadi, hal itu bukanlah tugas mereka. Melainkan tugas Satgas yang ada di tingkat kecamatan. Tugas tenaga medis di RSHD Manna adalah penanganan pasien.

“Kalau ada pasien covid yang meninggal, tugas kami adalah pemulasaran jenazah. Masukkan ke peti dan membawanya ke tempat pemakaman. Nah yang di pemakaman itu beda lagi petugasnya, itu sudah sesuai protapnya,” beber Emrusmadi.

Pihaknya juga sudah melaporkan ke Satgas covid-19, baik ke Dinkes BS dan BPBD BS terkait adanya pasien covid-19 yang meninggal dunia. “Sudah saya laporkan ke Dinkes dan BPBD, kalau pemakaman itu tugasnya Satgas di Kecamatan yang terdiri banyak unsur, termasuk pihak kecamatan, puskesmas dan ada babinsa juga Satpol Ppnya juga. Soal kejadian tadi (kemarin, red) itu diluar kontrol kami,” ujar Emrusmadi.

Dijelaskan Kabid P2P Dinkes BS, Ns. Elfa Sari, S.Kep, M.Kes, warga yang meninggal dunia berinisial PD (56), warga jalan Veteran Kelurahan Padang Kapuk Kecamatan Kota Manna, dinyatakan reaktif Covid-19 berdasarkan rapid test. Pihak Dinkes BS menyatakan pasien tersebut masih dinyatakan probable Covid-19. Karena bersangkutan masih menunggu hasil laboratorium RT-PCR yang belum keluar.

“Kalau untuk warga yang meninggal dunia inisial PD, baru didiagnosa probable Covid-19. Bukan konfirmasi Covid-19, karena belum ada hasil swab,” terang Elfa. (yoh/tim)