Distan Terbitkan Aturan Peminjaman Alsintan

0
85
PERAWATAN: Distan BS melakukan perawatan alsintan (ANDRI - Radar Selatan)

KOTA MANNA – Standar operasional prosedur atau SOP peminjaman alat mesin pertanian (alsintan) dalam waktu dekat akan diterbitkan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bengkulu Selatan (BS),. SOP ini diantaranya menjelaskan prosedur peminjaman serta apa saja hak dan kewajiban petani selaku peminjam.

Kabid Sarana dan Prasarana Distan BS, Edi Siswanto SPt melalui Kasi Pupuk, Pestisida dan Alsintan, Deni Ramdan Nuryadin SP, mengaku, juknis peminjaman ini tetap berpedoman pada juknis Brigade Alsintan yang diterbitkan Kementan RI, yang disesuaikan dengan kondisi pertanian di BS.

Baca Juga: APBD Belum Berpihak ke Peternakan

“Semacam SOP peminjaman. Tapi SOP ini masih di meja pak Kadis untuk ditandatangani. Inilah yang menjadi pedoman kita dan petani dalam menggunakan alsintan milik dinas,” tegas Denni. Secara umum kata Denni, peminjaman diawali dengan surat permohonan. Peminjam bisa dari unsure kelompok tani atau pribadi.

Surat tersebut akan ditelaah untuk melihat jenis alsintan yang mau dipinjam dan kegunaan alsintan tersebut. “Misal, pinjam eksavator tapi untuk buat kolam, itu tidak nyambung. Tapi kalau buat JSP (jalan sentra produksi), bisa,” imbuh Denni. Setelah permohonan disetujui, barulah dibuat surat perjanjian kontrak antara petani dengan Distan BS.

Diakui Denni, pihaknya tidak membebankan biaya sewa. Hal ini sesuai tujuan dibentukan Brigade Alsintan oleh Kementan, guna membantu petani dalam meningkatkan produksi pertanian. Hanya saja, alsintan yang disediakan dengan berbagai jenis dan kegunaan, Distan membagi hal itu menjadi dua.

Yakni, alsintan yang bersifat pinjam yang mana biaya pemeliharaannya dibebankan kepada peminjam, dan alsintan yang khusus pelayanan jasa.

Alsintan katagori pinjam adalah alsintan yang mudah dioperasikan oleh petani. Misalnya traktor roda dua dan pompa air. Sementara pelayanan jasa adalah alsintan yang tidak semua petani bisa mengoperasikannya dan harga alsintan jenis ini cukup mahal. “Kalau alsintan yang pinjam, kita tidak mungkin mengontrolnya setiap waktu. Kalaupun rusak, sparepartnya murah dan mayoritas petani sudah bisa memperbaiki sendiri. Tapi kalau traktor roda empat, itu masuk pelayanan jasa. Operator dari kita. Kalau rusak, petani belum bisa memperbaiki.. Sparepartnya juga mahal. Tidak mungkin petani menanggung biayanya,” jelas Denny.

Alsintan yang masuk pelayanan jasa pihaknya mematok harga sebesar Rp50 ribu per kubik. Sementara alsintan jenis pinjam hanya Rp5 ribu per kubik. Proses pinjaman maksimal dua minggu. Jika belum selesai, bisa diperpanjang dengan membuat surat kontrak baru.

“Kalau yang sifatnya pelayanan jasa, artinya petani terima bersih. Tidak ada lagi biaya mobilisasi dan operator. Kalau alsintan pinjam, ya hanya biaya pemeliharaan. Walaupun murah, tetap dirawat. Saat dikembalikan, kita minta kondisi alsintannya seperti saat meminjam,” ujar Denny. (and)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here