Alasan Hamil Diluar Nikah, PA Terpaksa Berikan Dispensasi

0
207

KOTA MANNA – Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Manna, sejak awal tahun 2020, Perkara dispensasi kawin atau persidangan nikah di bawah umur terus meningkat. Bahkan sampai dengan kemarin (29/7), ada 131 perkara dispensasi yang masuk ke PA. Sementara perkara perceraian yang mencapai 227 perkara.

Padahal Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan seperti yang diamanatkan Mahkamah Konstitusi (MK). UU Perkawinan yang baru mengubah batas minimal menikah laki-laki dan perempuan yang akan menikah minimal di usia 19 tahun.

Namun, regulasi itu justru tidak memberikan efek penekanan angka usia nikah muda. “Terus terang dengan angka perkara dispensasi kawin yang mencapai 131 tersebut sangat mengkhawatirkan. Berarti jika direratakan lebih 15 perkara dispensasi yang masuk setiap bulannya,” ujar Panitera PA Manna, Sahrun, S.Ag.

Ditambahkan Sahrun, yang lebih mengkhawatirkan lagi justru pengajuan perkara dispensasi kawin yang masuk didorong adanya kasus hamil diluar nikah (Hamidun) sehingga mau tidak mau PA mengeluarkan putusan rekomendasi nikah karena sifatnya mendesak.

“Kalau alasannya tidak mendesak, kami tidak akan proses pengajuan perkara dispensasi kawin. Karena nikah muda memang belum dianjurkan sebelum batas usia yang ditentukan tersebut,” kata Sahrun. Pihaknya sangat menyayangkan banyaknya kasus tersebut. Seakan-akan menjadi sinyal buruk bahwa norma dan etika di tengah masyarakat sudah jauh menurun dari sebelumnya.

Ditambah lagi yakni dengan banyaknya kasus hamidun seakan menjadi sebuah tren atau tidak tabuh lagi di pandangan masyarakat. “Ini menjadi PR kita bersama, bagaimana hal semacam ini jangan terus berlanjut dan berkembang. Sebab, kasus nikah mudah juga akan berdampak pada perkara perceraian karena memang usianya belum matang,” terang Sahrun.

Sebelumnya pihak PA telah gencar melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada masyarakat terkait batas usia minimal menikah dan dampak dari usia nikah muda. Akan tetapi dengan indikator data tersebut akan menjadikan proses sosialisasi harus gencar lagi dilakukan.

“Mungkin hal tersebut juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Salah satunya yakni pengaruh dari pengunaan internet yang tidak terawasi oleh orang tua. Sehingga anak bebas mengakses dan menyerab budaya luar yang kurang baik,” ungkap Sahrun.

Untuk itu, pihak PA sangat berharap kepada masyarakat agar sama-sama dapat menjaga dan mengingatkan akan buruknya dampak dari pergaulan bebas. Selain itu, peran orang tua juga harus lebih ditekankan lagi dalam setiap aspek pengawasan aktifitas anaknya. Sehingga hal-hal yang tidak baik dapat dijauhi dan disadari oleh generasi penerus bangsa.

Mudah-mudahan saja hal ini tidak lagi terjadi kedepannya. Terus terang sangat mengkhawatirkan masa depan anak-anak dan bangsa kita,” pungkas Sahrun. (cw2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here